
Banyuasin, 23 Juli 2025 — Di bawah langit kelabu yang menaungi Lapangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuasin, barisan pria berseragam Pramuka berdiri tegak dalam keheningan. Bukan barisan siswa atau anggota Saka, tapi para warga binaan dari 20 Lapas dan Rutan se-Sumatera Selatan. Mereka tengah mengikuti pembukaan Perkemahan Satya Dharma Bakti Pemasyarakatan—sebuah peristiwa yang tak biasa, namun sarat makna.
Sebanyak 153 narapidana terpilih, yang selama ini menjalani masa hukuman, diberi ruang dan kepercayaan untuk kembali belajar tentang kebersamaan, kedisiplinan, dan integritas. Selama dua hari, 23–24 Juli 2025, mereka tak hanya berkemah. Mereka diajak menyelami kembali nilai-nilai kepramukaan sebagai medium pembinaan karakter.
Perkemahan ini diinisiasi oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian yang berorientasi pada pemulihan sosial. Dalam laporannya, Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, Mishbahuddin, menjelaskan bahwa seluruh peserta telah melalui seleksi dan pembinaan intensif dari masing-masing Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan.

“Kegiatan ini bukan sekadar simbolik. Ini bentuk nyata kepercayaan dan harapan yang diberikan negara kepada warga binaannya,” ujar Mishbahuddin di hadapan jajaran tamu undangan.
Tanda dimulainya perkemahan ditandai dengan pemukulan kentungan bambu oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin, Erwin Ibrahim. Dalam sambutannya, Erwin memuji langkah progresif ini sebagai bentuk nyata dari filosofi pemasyarakatan yang sesungguhnya: membina, bukan membinasakan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai “forum transformasi yang menghadirkan kemanusiaan dalam bingkai hukum”.
Rangkaian pembukaan turut disaksikan jajaran Forkopimda dan berbagai tokoh daerah, mulai dari Kepala Kejaksaan Negeri, Kapolres, Ketua DPRD, Dandim, Kepala BNN, hingga akademisi dan perbankan. Kebersamaan lintas sektor ini memperkuat pesan bahwa pembinaan tak bisa hanya dijalankan oleh satu institusi. Ia membutuhkan kolaborasi.

Para peserta tidak membawa api unggun besar atau lilin harapan, tetapi tiap langkah mereka selama dua hari ke depan menjadi simbol dari api perubahan yang menyala dari dalam. Di antara barak-barak kemah sederhana, mereka diajak mengikuti berbagai aktivitas pembinaan, diskusi nilai, hingga simulasi kehidupan bermasyarakat.

Perkemahan ini bukan pertunjukan. Ia adalah proses. Di balik pagar tinggi dan tembok beton, tunas-tunas harapan itu tumbuh—pelan tapi pasti. Bahwa bahkan dalam dunia yang dibatasi jeruji, cahaya pembaruan masih bisa menyusup dan menyalakan kembali masa depan.






Tinggalkan Balasan